Sempat Beredar Kabar Ada Kelangkaan Pupuk Itu Tidak Benar
Jumantoro petani asal Desa Candijati Kecamatan Arjasa dan Ketua Forum Komunikasi Petani (FKP) Kabupaten Jember, membantah pupuk di Jember langka dan sulit diperoleh petani
MEMOPOS.co.id,Jember - Publik Jember belakangan ini sempat dibikin resah seolah terjadi kelangkaan pupuk, itu tidak benar dan kabar hoax itu dihembuskan orang tidak bertanggung jawab.Realita di lapangan, pupuk tetap ada namun terbatas bukan menghilang seperti diberitakan.
Saat diwawancarai Memo Pos, Kamis 29 Januari 2026, Jumantoro, Ketua Forum Komunikasi Petani (FKP) Kabupaten Jember, membantah keras bila di Jember pupuk kini sulit diperoleh petani."Itu kabar hoax, agar petani bingung."ucap Jumantoro.
Petani asal Desa Candijati, Kecamatan Arjasa Jember, meluruskan permasalahan tersebut.Petani di Jember tetap seperti biasa beraktifitas di sawah, karena pupuk dalam kondisi aman-aman saja.ia berpendapat, petani tidak terprovokasi hal itu.
"Sampai hari ini tidak ada kelangkaan pupuk bersubsidi di Kabupaten Jember, itu informasi dari kelompok tani.Kalau ada petani tidak bisa membeli pupuk, karena tidak terdaftar di (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok) RDKK."imbuh dia.
Jumantoro menambahkan, bisa jadi petani tidak bisa mendapatkan pupuk subsidi dikarenakan mereka sewa sawah tidak berkoordinasi kepada pemilik lahan.Untuk itu, kata Jumantoro, alangkah bijak bila data RDKK itu harus update agar petani kebagian pupuk.
"Saat Pak Djoko Susanto Wakil Bupati Jember berada di Kecamatan Jombang tanggal 21 Januari 2026, stok pupuk di salah satu kios aman.Tidak ada tanda-tanda pupuk langka, tentu ini sangat menggembirakan dan itu harapan petani." tegas Jumantoro.
Bapak beranak tiga itu menuturkan, keterbatasan jumlah pupuk subsidi tidak saja terjadi di Jember, namun merata di seluruh Indonesia, akibat kebijakan pemerintah pusat. Sehingga jatah pupuk daerah dikurangi dan tidak sesuai kebutuhan riel petani.
Ia mencontohkan, saat ini pemerintah mengalokasikan pupuk per hektar sawa tidak lebih dari 4 kwintal untuk tanaman padi dan jagung.Padahal, tanaman padi per hektar butuh 6-7 kwintal, tanaman jagung per hektar memerlukan pupuk 8-10 kwintal.
Setelah diterpa isu bernada fitnah pupuk langka, kini petani dipusingkan hama tanaman padi di saat musim hujan.Petani menghadapi serangan hama dari udara dan darat, berupa hama serangan ribuan burung dan tikus maka petani dipastikan merugi.
"Petani terancam gagal panen tidak kuasa melawan hama, mereka jelas sedih karena padi dimakan hama. Mereka telah mengeluarkan ongkos produksi, dinas terkait harus turun, jika dibiarkan maka swasembada pangan sekedar impian."pungkas Jumantoro.(*)
Reporter:
Winardyasto HariKirobo
