Polije Dorong Desa Kabat Gunakan Teknologi untuk Petakan Kesejahteraan Warga
MEMOPOS.co.id,Banyuwangi - Teknologi informasi semakin menjadi bagian penting dalam tata kelola pemerintahan desa. Bukan hanya untuk mempercepat pekerjaan administrasi, teknologi kini mulai dimanfaatkan untuk membantu pemerintah desa memahami kondisi masyarakat dan menentukan kebijakan secara lebih tepat.
Hal tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Politeknik Negeri Jember (Polije) di Desa Kabat, Kabupaten Banyuwangi, melalui sosialisasi dan penerapan Sistem Pendukung Keputusan (SPK) Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Berbasis Web.
Kegiatan tersebut mempertemukan tim dosen dan mahasiswa Polije dengan pemerintah Desa Kabat untuk memperkenalkan pemanfaatan teknologi dalam mengolah data kesejahteraan masyarakat.
Bagi pemerintah desa, keberadaan sistem semacam ini diharapkan dapat membantu proses pemetaan kondisi warga secara lebih terstruktur. Data yang selama ini menjadi bagian dari administrasi desa dapat diolah menjadi informasi yang mendukung proses pengambilan keputusan.
Dari Penilaian Manual Menuju Data Digital
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Politeknik Negeri Jember, Nugroho Setyo Wibowo, ST., MT., mengatakan perkembangan teknologi informasi saat ini sudah merambah hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk organisasi pemerintahan hingga tingkat desa.
Menurutnya, perkembangan teknologi yang sangat cepat perlu diikuti dengan pemanfaatan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Dengan adanya sistem ini, ke depan khususnya di pemerintah desa, di bidang tingkat kesejahteraan masyarakat, IT ini dapat membantu pemerintah desa dan juga masyarakat dalam melakukan filterisasi tingkat kesejahteraan masyarakat,” ujar Pak Nugroho dalam kegiatan tersebut.
Ia menjelaskan, salah satu manfaat penting sistem tersebut adalah membantu mengurangi penilaian yang sebelumnya dilakukan secara manual dan subjektif.
“Yang dulunya penilaian tingkat kesejahteraan masyarakat dilakukan secara subjektif, manual, ke depan bisa dilakukan secara akurat, berbasis data,” jelasnya.
Menurut beliau, data yang telah diproses secara digital juga dapat disimpan dengan lebih baik sehingga dapat digunakan kembali ketika pemerintah desa membutuhkan informasi untuk mengambil keputusan.
Dengan dukungan data tersebut, pemerintah desa dapat memiliki bahan pertimbangan yang lebih kuat dalam menentukan masyarakat yang menjadi prioritas penerima bantuan sesuai dengan kondisi kesejahteraannya.
Karya Mahasiswa untuk Desa
Menariknya, inovasi tersebut tidak hanya lahir dari tim dosen. Dalam kegiatan tersebut, sistem yang diperkenalkan juga disebut sebagai salah satu karya mahasiswa Polije.
Ketua Tim pengabdian menyampaikan apresiasinya terhadap keterlibatan mahasiswa dalam menghasilkan inovasi yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah desa.
“Ini merupakan salah satu karya mahasiswa dan patut kita banggakan, bahwasannya ini bisa dimanfaatkan oleh pemerintah desa,” katanya.
Menurutnya, inovasi tersebut diharapkan tidak berhenti di Desa Kabat. Jika dapat dikembangkan dan dimanfaatkan secara maksimal, sistem serupa berpeluang diterapkan di desa-desa lainnya.
Harapannya, kerja sama antara perguruan tinggi dan pemerintah desa juga dapat terus berlanjut pada bidang-bidang lain.
Tim Polije, telah membangun komunikasi dengan pemerintah Desa Kabat untuk kemungkinan pengembangan kerja sama, termasuk isu ketahanan pangan. Polije sendiri telah memiliki pengalaman membina sekitar 30 desa binaan di Jember.
Kepala Desa: Saatnya Desa Berbenah dengan Teknologi
Dukungan terhadap pemanfaatan teknologi juga disampaikan oleh Kepala Desa Kabat.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Kabat menilai perkembangan teknologi informasi sudah menjadi kebutuhan dalam tata kelola pemerintahan. Karena itu, pemerintah desa perlu mulai mencari dan mengembangkan sumber daya yang dapat membantu memperkuat sistem pemerintahan berbasis teknologi.
“Sudah tiba pada saatnya berbenah untuk menjadi lebih bagus dan menjadi lebih baik. Sebagaimana yang sudah digembar-gemborkan oleh Ibu Bupati Banyuwangi, semuanya sudah berbasis IT,” ujarnya.
Menurutnya, Desa Kabat memiliki potensi sumber daya manusia yang dapat membantu pemerintah desa dalam mengembangkan sistem berbasis teknologi informasi.
Ia menyambut baik kehadiran tim Polije dan berharap inovasi yang dikembangkan dapat memberikan manfaat bagi tata kelola pemerintahan Desa Kabat.
“Inilah yang benar-benar saya tunggu. Pada saatnya sudah datang,” ungkapnya.
Kepala Desa Kabat bahkan berharap pengembangan sistem tersebut tidak berhenti sebagai sebuah aplikasi, tetapi dapat menjadi bagian dari pengembangan sistem pemerintahan desa yang semakin terintegrasi.
Menurutnya, ke depan sistem teknologi informasi di Desa Kabat diharapkan dapat berkembang menjadi lebih canggih, mudah digunakan, dan saling terintegrasi sehingga dapat mempermudah pekerjaan pemerintah desa.
Berharap Menjadi Pilot Project
Antusiasme pemerintah Desa Kabat terhadap inovasi tersebut terlihat dari harapan agar sistem yang dikembangkan dapat menjadi salah satu contoh pengembangan teknologi pemerintahan desa.
Kepala Desa Kabat menyampaikan harapan agar inovasi tersebut dapat menjadi pilot project yang kemudian dikembangkan lebih lanjut.
“Apa yang nanti dicetuskan dan bisa ditelurkan di Pemerintah Desa Kabat ini benar-benar bisa menjadi pilot project ke depan untuk sistem IT ini,” katanya.
Ia juga berharap sistem tersebut dapat membuka peluang sinergi dengan desa-desa lain maupun dengan pemerintah daerah.
Menurutnya, kolaborasi antardesa dapat memberikan manfaat bersama, terutama dalam pengembangan teknologi informasi yang dapat mempermudah pekerjaan pemerintahan.
Teknologi Bukan Pengganti Keputusan Manusia
Meskipun sistem dapat membantu melakukan pemetaan dan memberikan informasi berdasarkan data, keputusan tetap berada di tangan manusia.
Pemerintah desa tetap memiliki peran penting untuk memeriksa kondisi masyarakat secara langsung, memahami konteks sosial warga, serta menggunakan hasil sistem sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan.
Hal tersebut menjadi penting karena kesejahteraan masyarakat bukan hanya persoalan angka. Di balik data terdapat keluarga, kondisi kehidupan, dan kebutuhan warga yang harus dipahami secara utuh.
Karena itu, Sistem Pendukung Keputusan sebaiknya dipandang sebagai alat bantu bagi pemerintah desa, bukan sebagai pengganti peran aparatur desa dalam mengambil keputusan.
Membawa Teknologi Lebih Dekat kepada Masyarakat
Bagi Polije, kegiatan pengabdian kepada masyarakat seperti ini menjadi ruang untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Dosen dan mahasiswa tidak hanya belajar mengenai teknologi di lingkungan kampus, tetapi juga ditantang untuk menghasilkan solusi yang dapat digunakan masyarakat.
Di sisi lain, pemerintah desa memperoleh kesempatan untuk mengenal dan mencoba teknologi yang dapat mendukung pekerjaannya.
Kolaborasi semacam ini menjadi semakin penting ketika transformasi digital terus berkembang hingga ke tingkat desa.
Tidak berhenti pada SPK kesejahteraan masyarakat, tim pengabdian Polije juga membuka peluang pengembangan materi dan kerja sama di bidang lain, termasuk pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk pemerintahan desa dan UMKM.
Dari Kabat untuk Desa yang Lebih Berbasis Data
Kehadiran Sistem Pendukung Keputusan tingkat kesejahteraan masyarakat di Desa Kabat menjadi sebuah langkah kecil dalam perjalanan transformasi digital desa.
Namun, maknanya cukup besar.
Ketika data masyarakat dapat dikelola dengan baik, pemerintah desa memiliki peluang untuk memahami kondisi warganya secara lebih terukur. Ketika informasi tersedia dengan lebih baik, proses perencanaan program juga diharapkan dapat menjadi lebih tepat sasaran.
Bagi Desa Kabat, inovasi ini diharapkan menjadi awal dari pengembangan sistem teknologi informasi yang lebih luas dan terintegrasi.
Sementara bagi Polije, kegiatan ini menjadi bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam membantu menyelesaikan persoalan masyarakat melalui ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah inovasi teknologi tidak hanya diukur dari seberapa canggih sistem yang dibuat.
Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh teknologi tersebut membantu pemerintah bekerja lebih baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dari Desa Kabat, sebuah sistem berbasis data diharapkan menjadi langkah awal menuju tata kelola pemerintahan desa yang semakin modern, terintegrasi, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
