Sejak Bulan Januari-Agustus 2023 Selama Delapan Bulan Kasus HIV/Aids Tercatat 132 di Blora
MEMOPOS.co.id,Blora - Kabupaten Blora, Jawa Tengah, melalui dinas kesehatan (dinkes) setempat serius menangani kasus HIV/Aids. Karena selama delapan bulan sejak Januari – Agustus 2023, tercatat ada 132 kasus HIV/Aids di Blora.
Kepala Dinkes Kabupaten Blora, Edy Widayat mengatakan, pihaknya terus berupaya dengan melibatkan lintas sektoral untuk menangani kasus itu. Seperti OPD, camat, organisasi swasta, sekolah-sekolah, dan banyak upaya lainnya. Baik dalam memberikan edukasi, pengertian-pengertian, maupun pemahaman pencegahan HIV/Aids.
Mulai Januari-Agustus 2023 Tercatat 132 Kasus, HIV/Aids di Blora Jadi Perhatian Khusus
Kondisi Kritis, Pasien di Pulau Sapeken Sumenep Harus Carter Kapal untuk Berobat ke Bali
Vaksinasi Hewan Gratis untuk Cegah Rabies di Lamongan
132 Kasus HIV/Aids Terdeteksi, Wabup Etik Dukung Three Zero 2030
Puskeswan Polman Sabet Juara Satu Pelayanan Kesehatan Hewan Terbaik di Sulbar
"Kami membentuk tim, KPAD (Komisi Penanggulangan HIV/Aids Daerah), Ketum Bupati Blora dan KPAD Harian, Wakil Bupatinya. Guna mempercepat penanggulangan dan upaya dalam pencegahan,” terang Edy, di sela-sela acara Seminar Pencegahan dan Pengendalian HIV/Aids, di Gedung Perawat Blora, Rabu (11/10/23)
Di samping upaya itu, kata Edy, tempat-tempat yang rawan dengan penularan, seperti lokalisasi, tempat karaoke, juga terus dilakukan penyuluhan secara rutin, hingga melibatkan para pemuka agama dan tokoh masyarakat untuk sosialisasi.
"Di lapas ya rutin melakukan penyuluhan,” terang dia.
Saat di tanya tentang pelayanan, Kadinkes Blora menjelaskan, ada di 22 puskesmas, enam rumah sakit, dan semua institusi layanan kesehatan. Baik milik pemerintah maupun swasta. Semuanya bisa melakukan tes HIV/Aids, baik pengobatan, penyuluhan, maupun konseling.
"Kami memfasilitasi upaya mempercepat penanggulangan HIV/Aids, pelayanan tes dan pengobatan bahkan konseling,” paparnya.
Edy juga menyampaikan kepada Orang Dengan HIV/Aids (ODHA), pihaknya akan memberikan pendampingan dan penguatan, agar tidak terjadi lost to follow atau kondisi pasien drop out. Pendampingan itu agar kondisi fisik dan kesehatannya mampu bertahan.
“Jauhi penyakitnya, jangan pernah menjauhi ODHA-nya. Jangan punya stigma negatif, mereka bagian dari kita, satu keluarga,” pesan Edy.
(Ardy)
