Apalah Arti 100 Hari Kerja?
https://www.memopos.co.id/2020/05/apalah-arti-100-hari-kerja.html
Foto : Istimewa
Penulis : Andik Sugiono (Pemred Memo Pos)
Semua mata menyoroti, akan ada apa di 100 hari kerja pertama Rektor Unej terpilih, masa periode 2020-2024, Iwan Taruna. Menanti, dobrakan sang rektor yang sah dilantik Pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, 31 Januari 2020 lalu.
Memang sudah menjadi kebiasaan. Masyarakat di republik ini, gemar sekali mengawasi di awal kerja sang pejabat. Padahal 100 hari kerja pertama, tak ada sebandingnya dengan satu periode masa sang rektor yang sampai 4 tahun.
Sulit menelisik, dari mana budaya raport kerja itu muncul kali pertamanya?. Sampai-sampai, di posisi jabatan publik lainnya, ada yang serius melakukan survei persepsi publik atas kinerjanya. Yang dicari, puas atau tidak?.
Ya, boleh saja melakukan upaya penilaian atas parameter suatu kinerja pejabat publik. Namun jika hanya dilakukan atas dasar kebiasaan (trend) yang tak berujung, bisa-bisa jadi bias tujuannya. Terkecuali, konsisten dengan penilaian capaian secara periodik. Seperti 7 harian, 40 harian, 100 harian, setahunan (haul), hingga 1000 hari. Ya, sampai mirip selamatan meninggalnya orang desa. hehe
Kadang kita harus bersikap obyektif. Tak boleh skeptis, hanya membaca suatu persoalan hanya dari satu perspektif belaka. Membacanya harus utuh.
Semisal, beberapa hal yang dinilai gagal di 100 hari pertama kerja, tentu juga harus adil mendengar, apa penyebabnya? Semisal faktor eksternal yang tak bisa ditebak dan sulit dibendung hari ini : Pandemi Corona (Covid-19).
Sebagai civitas akademika yang memegang label universitas negeri, Tentu Unej juga harus patuh dan taat atas kebijakan pemerintah pusat, Seperti : Social Distancing (jaga jarak sosial), beraktivitas dari rumah (Stay at home), hingga semua aktivitas akademika, beralih dari tatap muka langsung jadi daring (online).
Tentu, alasan demikian patut jadi kompromi semua pihak. Meski benar, segala kritik tak patut dicarikan pembenaran. Kritik hendaknya jadi bahan evaluasi. Namun bagi pengkritik, juga patut meluruskan niatan kritiknya untuk perbaikan semua. Bukan mengumbar keburukan pemimpin, hanya karena persoalan beda sikap belaka.
Namun yang pasti, mereka yang baru di puncak gedung Rektorat Unej, butuh adaptasi yang terus-terusan harus konsolidasi dengan berbagai jajaran civitas akademika. Teruntuk pak rektor, teruslah bekerja, bekerja terus, selama masa bhaktimu tersisa sebagai amanah mulia para senat dan utusan Mendikbud RI yang memilihmu. Tentu untuk alamater tercinta, Universitas Jember. (*)
