Dr. M. Ali. Pemimpin Yang Amanah Itu Langka Tetapi Dibutuhkan
https://www.memopos.co.id/2019/09/dr-m-ali-pemimpin-yang-amanah-itu.html
Dr.Muhammad Ali.M.Si.
MEMOPOS.com.Mataram-Wakil Dekan 2 Fisipol Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) NTB, Dr.Muhammad Ali,M.Si Menyatakan, "Pemimpin yang amanah itu langka tetapi dibutuhkan." sebutnya.
Demikian dikatakan Wakil Dekan 2 Fisipol UMMAT Dr.Muhammad Ali,M. Si, saat ditemui Wartawan disela- sela kesibukannya Sabtu(28/9/19) di Mataram.
Dosen Senior yang berwajah ganteng ini menjelaskan "pemimpin yang butuhkan adalah Pemimpin yang harus memiliki kemampuan manejerial yang baik dan benar, skil serta cerdas, jujur dalam memimpin dan tidak otoriter. Selain itu Pemimpin harus bisa menjadi Imam. bukan hanya sekedar sebagai makmum." jelasnya.
Pemimpin yang bisa menjadi Imam sekaligus menjadi "motivator, kepada apa yang dipimpin nya termasuk memilih orang yang akan membantu dalam tugasnya. Diantaranya memiliki semangat perubahan harus transparan dan demokratis, tidak boleh menabrak Undang- Undang dan peraturan yang berlaku." sebut suami Hj.Siti Husnah,S.Pd itu.
Bahwa untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut, lanjut alumni S3 Universitas Brawijaya Malang ini "pemimpin harus iman dan Taqwa kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa agar tidak bertempat tinggal di Lembaga Pemasyarakatan alias Penjara." tutur Doktor yang memiliki hoby jalan sehat dan menulis ini.
"Jika pemimpin tidak ber hati-hati dalam memimpin, tentu akan sengsara diak hirat kelak.Apabila pemimpin tidak bisa mempertanggung jawabkan apa yang dipimpinnya. jelas Doktor yang santun itu.
Oleh karena itu pemimpin atau pejabat harus berji wa luhur. Pemimpin yang kita harapkan adalah pemimpin yang haus gol,haus keberhasilan dan haus untuk selalu mau berbuat kebai kan. Jangan menjadi pemimpin yang bermental kepura -puraan.Kalau itu yang terjadi maka pemimpin tersebut ketinggalan jaman alias gagal karena disinilah nilai amanah itu." sebut dosen tetap Universitas Muhammadiyah mataram yang murah senyum ini.
"Pemimpin yang amanah itu dijamin masuk surga. Dia dibangunkan oleh Allah swt rumahnya diakhirat nanti dengan cahaya dan diharamkan baginya masuk neraka,karena apa? kata Doktor yang dikenal cerdas ini dengan nada tanya.
"Apabila pemimpin melakukan kesalahan maka nanti yang akan menjadi jaksa atau penuntut umum di akhirat adalah semua rakyat yang dipimpinnya.
Bayangkan saja lanjut putra Indonesia kelahiran Pagutan Mataram NTB ini. kalau satu jaksa saja kita tidak akan mampu menghadapi nya, apalagi semua rakyat yang dipimpinnya yang menjadi penuntut umum diakhirat kelak." tegas Doktor yang rajin menulis di Jurnal Ilmiah ini.
Sementara pembela nya atau pengacara "tidak ada akhirat sana selain dari perbuatannya yang dikenal dengan sebutan amal ibadahnya yang bisa membela dia." tegas putra almarhum H.Ahmad Ikhsan dan Hj.Siti.Rahmah almarhumah.
"Dimana-mana pemimpin banyak yang bermasalah,masuk penjara contohnya Ketua MK.Ketua DPR RI.Ketua DPD RI.Menteri. Menteri, Gubernur.Bupati Waiikota.Kades,Kasek dan banyak lainnya adalah berbagai penyimpangan yang bermunculan dan ujung- ujungnya masuk penjara dan akhirnya menjadi warga binaan lembaga pemasyarakatan.
Padahal pemerintah sangat konsen melakukan pemberantasan korupsi dan begitu gencarnya penega kan hukum yang dilakukan KPK, jaksa dan Kepolisian dalam menjalankan tugas nya dengan baik dan Profesional.Tetapi masih ada saja pejabat yang nekat main api melakukan tindak pidana korupsi." kata ayah 4 orang anak ini.
Oleh sebab itu lanjut Doktor yang rajin menulis diberbagai Media Massa Nasional ini mengingatkan kepada "para pejabat agar berhati- hati dan dapat menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan tercela dan sangat mencederai hati rakyat. Seharusnya pada kesempatan menjadi pemimpin itulah dijadikan sebagai sarana ibadah karena menjadi pemimpin adalah amanah karena Allah swt telah menjanjikan bahwa untuk pemim pin yang amanah akan di bangunkan Rumah dengan Cahaya di Surga. Tetapi kenyataannya sekarang banyak pemimpin memilih penjara sebagai rumahnya."tegas Wakil Ketua 2 IAPA Wilayah Bali.NTB dan NTT itu. (Taqwa)
