Kecamatan Wera Bima, Riwayat Mu Kini, Pemerintah Di Tuding Kurang Memberi Perhatian..?
https://www.memopos.co.id/2019/08/kecamatan-wera-bima-riwayat-mu-kini.html
Foto:Korlipda NTB Muhammad Taqwa
MEMOPOS.com, Mataram -Masyarakat Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, NTB, tempo dulu jaman Orde lama (Orla) maupun jaman orde baru (Orba) harus rela jalan kaki atau naik Kuda, jika mau ke Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Bagi putra putri,anak bangsa Indonesia di Kecamatan ini yang ingin melanjutkan Sekolah di SLTP atau SLTA harus rela jalan kaki ke Kota Bima, sembari memikul beras dari Kampung untuk bekal,dan membawa sebuah tas pakaian. maklum pada jaman itu di Kecamaran Wera yang ada hanya Sekolah Rakyat (SR) Sekolah Dasar (SD) saja.
Masyarakat yang mau ke Kota Bima harus melewati hutan belukar. Meliwati Gunung,menyeberangi sejumlah sungai melawan banjir dan kerap turut hujan di jalan,basah kuyup, serta menjelajahi hamparan tanah luas sejauh mata memandang.
Jarak yang ditempuh jalan kaki menuju Bima Kota lebih kurang 65 Kilometer (Km) dengan waktu tempuh perjalanan sehari penuh, berangkat subuh dan tiba di kota Bima setelah magrib.
Yang menarik banyak tokoh di Kecamatan itu rela pergi merantau berbekal jalan kaki untuk sekolah di Kota Bima dan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi menuju Mataram, ibukota Provinsi NTB dan ada pula yang ke Jakarta maupun dikota- kota lain, sedangkan penulis pada kala itu,hati berlabuh memilih kota angin mami Makassar, menumpang perahu layar yang memuat bawang merah.
Sangat banyak anak desa menjadi kebanggaan bangsa ini, lahir didesa dan sukses di era reformasi, menikmati hidup dikota, tetapi pernah merasakan pahit getirnya jalan kaki dari Kampung menju kota Bima, antara lain Dr. HM. Natsir,SH.M.Hum, saat ini sebagai Wakil Rektor Universitas Negeri Mataram (UNRAM), Dr H.Arba Mahmud,SH. M.Hum, saat ini sebagai Dosen Senior Unram, Drs. H.Murtala Majid,M.Pd, sebagai pengawas, dan Irjen Pol.(Purn) Prof.Dr. Farouq Muhammad Mantan Kapolda NTB,pernah sebagsi Gubernur PTIK dan terakhir sebagai Wakil Ketua DPD RI dan masih banyak lagi sejumlah deretan nama tokoh tokoh lain yang lahir di Desa yang dinilai berhasil menerobot dunia pendikian dan banyak pula sebagai pejabat dipemerintahan mungkin ini yang disebut Sengsara Membawa Nikmat.
Maklum pada jaman itu yang ada hanya Sekolah Rakyat (SR) / Sekolah Dasar (SD), yang jumlah nya dapat dihitung dengan jari tangan saja. Apa lagi yang namanya sepeda motor, mobil,HP, Leptop, Koran, TV, Internet sangat asing bagi masyarakat Desa.
Satu satunya media yang ada sebagai hiburan kala itu adalah Radio RRI, mataram atau RRI Nusantara 1Ujung Pandang kini namanya Makassar yang akrab ditelinga warga.
Kemerdekaan Republik Indonesia pertamakali diketahui masyarakat Desa melalui berita Radio RRI, sehingga rakyat pada jaman itu mendengar Indonesia sudah merdeka, spontan langsung sujud sukur dan berdoa, memohon kepada Allah SWT semoga semua pemimpin dan rakyat serta TNI,Polri di negeri ini diberi petunjuk dan diberi keselamatan dunia dan akhirat.
Hunker Wapres RI,JK dan rombongan menuju NTB Pada tanggal,3 Agustus 2019 dalam rangka Peresmian Ponpes milik Prof Dr.Din Syamsudin di Sumbawa, ternyata doa itu terulang kembali di Bima (bukan meralat doa) dipimpin Drs.H. Mahmud, Ketua Ponpes Nurul Huda di Desa Oi Tui, Kecamatan Wera, Bima, yaitu doa keselamatan untuk Presiden,Wakil Presiden dan untuk para pemimpin negeri ini mulai dari pusat hingga daerah dengan mengharapkan Pemda Provinsi NTB dan Pemda Kabupaten Bima hadir dalam rangka Peletakan batu pertama rehab rekon Aliyah Ponpes Nurul Huda di Desa Oi Tui,Kecamatan Wera,Kabupaten Bima yang menurut rencana akan digelar setelah Hari Raya Idul Adha bulan ini atau setelah tanggal, 17 Agustus.(Taqwa).
Catatan Redaksi. Penulis adalah aktivis, Wartawan Senior dan merangkap sebagai Dosen.Selain itu Penulis adalah Wakil Ketua Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi (GNPK) NTB dan sebagai Wakil Ketua disebuah Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum.
