Bupati Jember Dan Penyelenggara JFC Meminta Maaf Kepada Masyarakat
https://www.memopos.co.id/2019/08/bupati-jember-dan-penyelenggara-jfc.html
Bupati dr Faida dan Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo Dihadapan Para Tokoh dan Ulama
MEMOPOS.com,Jember-Gelaran Jember Fashion Carnaval (JFC) ke 18 telah usai. Dibalik kemeriahan dan kesuksesannya, perhelatan JFC meninggalkan sebuah kontroversi Costum yang digunakan oleh artis bintang tamu Cinta Laura Kiehl yang menjadi pergunjingan di masyarakat khususnya jagad media sosial.
Menyikapi hal itu, Forkompimda Jember bersama tokoh agama di antaranya Ketua MUI Jember, Ketua GP Ansor, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), sejumlah tokoh masyarakat menggelar pertemuan di Pendapa Wahyawibawagraha, Selasa (6/7/2019).
Bupati Jember dr Faida MMR menyatakan dalam kesempatan itu dihadapan Ketua MUI Jember, Ketua GP Ansor, Ketua NU Jember, Ketua FPI Jember dan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), sejumlah tokoh masyarakat memohon permintaan maaf.
"Bahwa hal seperti itu dijamin tidak terulang di kemudian hari, hal tersebut secara teknis murni sebuah keteledoran, karena tamu datang hanya beberapa saat tidak sempat melakukan koordinasi dengan manajemen JFC dan alhamdulillah Kami Bupati dan Wakil Bupati maupun pihak manajemen JFC memohon maaf pada Undangan yang hadir dan pada semua Masyarakat Jember,"Ungkap Bupati Jember
Untuk itu dalam forum sepakat, harus ada regulasi yang mengatur disegala even mengacu pada norma-norma nilai-nilai yang tidak boleh meninggalkan nilai dan norma-norma yang dianut oleh mayoritas masyarakat di Kabupaten Jember.
Saya berterima kasih kepada semua pihak yang peduli menjaga kelangsungan mahakarya yang telah dirintis oleh almarhum Dynand Faris, tetap menjadi terbaik kalau ada yang salah harus diperbaiki, berkat kepedulian semua pihak manajemen jfc tidak diminta maaf pun menyampaikan permohonan maaf nya.
Ketua Majelis Ulama Indonesia Prof Dr Halim Subehar, sangat mengapresiasi langkah yang diambil oleh Forkompimda secara cepat mengumpulkan para tokoh, kiai dan ulama untuk memberikan dan penjelasan bahkan permintaan maaf oleh Bupati dan Wakil Bupati maupun managemen jcf juga minta permohonan maaf nya
"Alhamdulillah pertemuan berjalan kondusif seluruh elemen dari tokoh agama NU dan Muhammadiyah semuanya termasuk LPI dan FPI serta undangan yang hadir mengamini permohonan maaf nya," terang Halim Subehar.
Semoga pertemuan dan Permohonan maaf ini berdampak positif dari masyarakat oleh karena itu kami menghimbau aksi yang akan digelar besuk diurungkan, percayakan semua aspirasi itu pada tokoh-tokoh yang tadi sudah menyampaikan.
"Kedepan Kejadian serupa tidak terulang kembali untuk itu harus ada regulasi yang mengatur (perbub) tetang norma-norma yang dibolehkan dan yang dilarang,"tutup Ketua MUI Jember.
Sementara Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo SH SIK MH, mengatakan untuk menjaga kondusifitas dan tangkal keresahan di tengah masyarakat dan media sosial adanya kontroversi tampilan dibagian JFC yang dianggap mengumbar aurat.
"Sebelum meluasnya keresahan di masyarakat utamanya di media sosial, perlu gerak cepat Forkompimda mengadakan gagasan pertemuan dan mengajak para Kiai dan ulama serta tokoh lintas agama dengan panitia JFC bisa menemukan solusi yang terbaik,"jelas Kapolres Jember.
"Kami hanya bisa berharap kepada para Kiai, bisa menyampaikan kepada para santrinya untuk tidak perlu ada aksi karena hari ini sudah tuntas semua apa yang menjadi harapan kyai sudah didengar langsung oleh Bupati dan para pihak pelaksana JFC, tandas Kusworo Wibowo
Kusworo menambahkan, meskipun demikian penyampaian pendapat di muka umum boleh-boleh saja, saya harap tidak perlu lagi aksi demo apalagi melakukan tindakan anarkis merupakan perbuatan pidana, cukup di sini saja untuk apa sudah diselesaikan.
Ketua Muslimat Kabupaten Jember Hj Emy, menambahkan pelaksanaan segala even perlu Evaluasi pelaksanaan waktu jangan nabrak waktu sholat dan Kostum harus sesuai dengan batasan dan adat masyarakat jember yang merupakan kota santri dan religius serta Memperhatikan masalah ekologi, taman, Jfc ke depan harus ada dipresentasikan sebelum diperagakan. (ndik)
