Peringati Hantaru Ada Seminar Alih Fungsi Lahan Hingga Art Expo
Miftahul Huda, SH.MKn menjadi narsumber seminar memperingati Hantura diadakan fakultas teknik, jurusan teknik sipil Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Jember.
MEMOPOS.co.id,Jember - Himpunan Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota ( HMPWK) Fakultas Teknik Unuversitas Jember, Sabtu pagi (31 Oktober 2026) mengadakan kegiatan memperingati Hari Agraria Nasional dan Tata Ruang (Hantaru) bertempat di lantai 5 Gedung Jember Nusantara, mengawali acara tersebut diadakan seminar mengupas bahasan alih fungsi lahan.
Deira Falmei Yudanti ketua pantia Hantaru kepada wartawan Memo Pos mengatakan, bahasan seminar tersebut masih terkait PWK.Peserta tidak saja mahasiswa, namun juga pelajar dan umum.Menghadirkan Miftahul Huda,SH.MKn sebagai pemateri, dosen fakultas hukum Universitas Muhammadiyah Jember.
"Peringatan Hantaru tahun 2026 kali ini mengusung tema Urbansync, kegiatan dimulai dari pagi hingga malam hari.Selain seminar, ada pula expo art berupa seni rupa hasil goresan tangan mahasiswa.Tidak Itu saja, ada pula pentas seni sehingga Hantaru ini meski berlangsung sederhana namun semarak."ucap Deira mahasiswa semester 5 itu.
Dalam seminar nasional itu, Huda memaparkan, saat ini tidak sedikit lahan pertanian di Indonesia termasuk di Kabupaten Jember berubah fungsi manjadi lahan pemukiman dan kawasan Industri.Praktis, luas lahan pertanian semakin susut, sehingga produktivitas pertanian juga berkurang dan swasemda pangan sulit terwujud.
"Jika ini dibiarkan maka Indonesia akan melakukan kebijakan import seperti mendatangkan beras dari negara lain akibat lahan pertanian disalah fungsikan, tentu hal ini merugikan petani karena tidak mampu untuk melawan beras import Untuk itu, pemerintah harus tegas mengatasi Persoalan alih fungsi lahan ini,"ucap pria asal Kabupaten Lumajang itu.
Huda juga mengkritisi Rencana Tata Ruang dan Wilayah ( RTRW) Kabupaten Jember tidak jelas dan perlu dibenahi.Menurut Huda, RTRW tiap 5 tahun harus diperbaruhi karena selama kurun waktu itu jelas terjadi perkembangan pesat suatu daerah, semula sepi kini menjadi ramai, sehingga RTRW harus disesuaikan bukan malah dibiarkan.
Dibagian lain, Ir.
Nunung Nuring Hidayati ,ST, MT, koordinator Program Studi PWK menegaskan, Hantaru merupakan momentum utama pembangunan berkelanjutan di Indonesia ditengah laju petumbuhan penduduk semakin pesat, aktifitas masyarakat, krisis iklim global dan ruang semakin terbatas.
"Untuk itu, pengelolaan tata ruang sangat diperlukan.Hal ini untuk menghindari pertumbuhan tidak terkendali.Penataan ruang berfokus kepada penyelarasan keseimbangan manusia dan lingkungan serta mengakselerasikan pertumbuhan ekonomi juga membangun Indonesia maju melalui digitalisasi."tutur Nunung(*)
Reporter: Winardyasto HariKirono
